BUDAYA MELAYU MASYARAKAT
SIAK SRI INDRAPURA
MAKALAH
BUDAYA
MELAYU MASYARAKAT SIAK SRI INDRAPURA
TUGAS
MATA KULIAH
(TAMADUN
MELAYU)
DOSEN
DR. AGUS MANDAR,
M.SI
KELOMPOK :
1.
2.
3.
4.
5.
FAKULTAS ILMU SOSIAL
(AKUNTANSI 1 A)
UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah budaya melayu masyarakat siak sri indrapura.
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah budaya melayu masyarakat siak sri indrapura.
Tidak
lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kami masing-masing
dan terima kasih kepada dosen tamadun melayu
yang telah membimbing kami agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun makalah
ini,dan dengan perjuangan kelompok dapat menyusun makalah ini.
makalah ini disusun agar pembaca
dapat memperluas ilmu tentang BUDAYA
MELAYU MASYARAKAT SIAK SRI INDRAPURA, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber. Makalah ini disusun oleh kami dengan berbagai hambatan,
baik suka maupun duka, baik itu yang datang dari diri kami masing-masing maupun
yang datang dari luar. Kendala kami dalam menulis karya tulis ilmiah ini adalah
brayawaktu, serta berbagai hal yang tidak dapat kami sebutkan.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga karya makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja khususnya bagi diri kami sendiri, para pelajar dan semua yang membaca karya makalah kami ini, dan mudah-mudahan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Kami menyadari bahwa dalam makalah tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah kami ini.
Terimakasih.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga karya makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja khususnya bagi diri kami sendiri, para pelajar dan semua yang membaca karya makalah kami ini, dan mudah-mudahan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Kami menyadari bahwa dalam makalah tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah kami ini.
Terimakasih.
i
Daftar Isi
Kata
Pengantar
.................................................................................................... i
Daftar
Isi.............................................................................................................. ii
BAB
1 PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1. Sejarah
masyarakat siak ...............................................................
1.2. Gambaran
wilayah siak................................................................
BAB 2 SISTEM KEHIDUPAN MASYARAKAT SIAK
SRI INDRAPURA
.....................................................................................
2.1. Adat
istiadat..................................................................................
2.2. kesenian
......................................................................................
2.3.
makanan.......................................................................................
2.4.
pakaian..........................................................................................
2.5 kebudayaan..................................................................................
2.6. tempat usaha
.................................................................................
BAB
3 PENUTUP ...............................................................................................
3.1.
Kesimpulan ..................................................................................
Daftar
Pustaka.......................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. SEJARAH
MASYARAKAT
Siak adalah
sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dulunya merupakan pusat kesultanan Islam
terbesar di Riau yaitu Siak Sri Indrapura. Warisan kebesarannya pun hingga kini
masih nampak di berbagai sudut kota. Sejarahnya yang panjang telah meninggalkan
warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan Indonesia.
Siak semakin banyak diminati wisatawan
mengingat di sini berdiam banyak sisa bangunan bersejarah sisa dari Kesultanan
Siak Sri Indrapura hingga bangunan peninggalan Hindia Belanda. Beberapa yang
sering dikunjungi wisatawan adalah Istana Siak, Masjid Sultan, Makam Marhum Buantan, Balai
Kerapatan Tinggi, Wisata Bahari Danau Pulau Besar, Wisata Sungai dan Wisata
Agro, Taman Hutan Raya Sultan Syarif Qasyim, Monumen Pompa Angguk, Bangunan
Peninggalan Belanda, dan Kapal Kato. Dengan beragam peninggalan tersebut
membuat Kota Siak menjadi salah satu lokasi wisata sejarah yang sayang untuk
dilewatkan.
Kesultanan Siak Sri Indrapura didirikan pada
1723 M oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, yaitu putra Raja Johor Sultan
Mahmud Syah. Kesultanan Melayu Islam yang terbesar di Riau ini mengalami masa
kejayaan pada abad ke-16 hingga abad ke-20. Kesultanan ini memiliki hubungan
erat dengan kerajaan Malaka dan Johor-Riau. Kini pun seakan tidak lepas dari
sejarahnya, Kabupaten Siak masuk dalam wilayah segitiga pertumbuhan (growth
triangle) Indonesia – Malaysia – Singapura.
Sungai Siak yang membelah wilayah Kabupaten
Siak merupakan sungai terdalam di Indonesia dan berfungsi sebagai sarana
transportasi dan perhubungan. Selain Sungai Siak ada juga sungai lainnya di
Siak, yaitu: Sungai Mandau, Sungai Gasib, Sungai Apit, Sungai Tengah, Sungai Rawa,
Sungai Buantan, Sungai Limau, dan Sungai Bayam. Ada pula beberapa danau, yaitu:
Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau
Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.
Ada beragam makna dari kata siak, sebagian mengatakan itu
berasal dari nama tumbuhan yang banyak terdapat di daerah ini yaitu yaitu
siak-siak. Kata Siak Sri Inderapura dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata sri (bercahaya), indra (raja), dan pura (kota atau kerajaan), secara
harfiah bermakna pusat kota raja yang taat beragama. Dalam anggapan masyarakat
Melayu bahwa kata siak berarti sangat bertali erat dengan agama
Islam, yaitu orang siak adalah orang yang ahli agama Islam, jadi apabila
seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai orang siak.
Kabupaten Siak awalnya merupakan wilayah
Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak.
Berikutnya, tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kota Siak Sri
Indrapura. Kabupaten Siak dikenal sebagai penghasil minyak bumi dengan standard
terbaik di Indonesia. Tambang Minyak Bumi ini berada di Kecamatan Siak, Sungai
Apit dan Minas yang dikelola oleh PT. Chevron dan PT. Kondur Petroleum SA.
Kota Siak memiliki nuansa yang tenang, bersih,
dan ramah masyarakatnya. Salah satu icon terbaru kota ini adalah Jembatan
Tengku Agung Sultanah Latifah. Keberadaannya selain sebagai sarana transportasi
juga menjadi tujuan wisata di daerah ini.
1.1. GAMBARAN WILAYAH
Sebelumnya kawasan ini merupakan bagian
dari Kesultanan Siak Sri Inderapura. Di awal kemerdekaan
Indonesia, Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir menyatakan kerajaannya
bergabung dengan negara Republik Indonesia. Kemudian wilayah ini menjadi wilayah Kewedanan Siak
di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Pada
tahun 1999 berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999, meningkat statusnya menjadi
Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura.
Secara
geografis Kabupaten Siak terletak pada koordinat 10 16’ 30” — 00 20’ 49” Lintang Utara dan 100 54’ 21” 102° 10’ 59”Bujur Timur. Secara fisik geografls memiliki
kawasan pesisir pantai yang berhampiran dengan sejumlah negara tetangga dan
masuk kedalam daerah segitiga pertumbuhan (growth triangle) Indonesia - Malaysia - Singapura.
Bentang alam
Kabupaten Siak sebagian besar terdiri dari dataran rendah di bagian Timur dan
sebagian dataran tinggi di sebelah barat. Pada umumnya struktur tanah terdiri
dan tanah podsolik merah kuning dan batuan dan alluvial serta tanah organosol
dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Lahan semacam ini subur
untuk pengembanganpertanian, perkebunan dan perikanan. Daerah mi beriklim tropis dengan suhu udara antara 25° -- 32°
Celsius, dengan kelembaban dan curah hujan cukup tinggi.
Selain dikenal
dengan Sungai Siak yang membelah wilayah Kabupaten Siak, daerah ini juga
terdapat banyak tasik atau danau yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Sungai Siak sendiri terkenal sebagai sungai
terdalam di tanah air, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama
sebagai sarana transportasi dan perhubungan. Namun potensi banjirdiperkirakan juga terdapat pada daerah
sepanjang Sungai Siak, karena morfologinya relatif datar.
Selain Sungai
Siak, daerah ini juga dialiri sungai-sungai lain, yaitu: Sungai Mandau, Sungai
Gasib, Sungai Apit, Sungai Tengah, Sungai Rawa, Sungai Buantan, Sungai Limau,
dan Sungai Bayam. Sedangkan danau-danau yang tersebar di daerah ini adalah:
Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau
Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.
Berdasarkan
perhitungan sikius hidrologi, 15% surplus air dan curah hujan rata-rata bulanan
menjadi aliran permukaan, maka memungkinkan terjadinya banjir musiman pada
bulan-bulan basah. Dan analisis data curah hujan diketahui bahwa bulan basah
berlangsung pada bulan Oktober hingga Desember, sedangkan bulan kering pada bulan Juni hingga Agustus. Distribusi curah hujan semakin
meninggi ke arah Pegunungan Bukit Barisan di bagian barat wilayah Provinsi Riau.
1.
Kabupaten Siak
berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu :
Kabupaten Siak telah berkembang menjadi beberapa
kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Bunga Raya
6. Kecamatan Siak
7. Kecamatan Sabak Auh
8. Kecamatan Tualang
9. Kecamatan Minas
10. Kecamatan Sungai Apit
11. Kecamatan Pusako
12. Kecamatan Lubuk Dalam
13. Kecamatan Sungai Mandau
14. Kecamatan Mempura
Penduduk
|
Tahun
|
2000
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2010
|
|
Jumlah penduduk
|
||||||
|
Sejarah kependudukan
Kabupaten Siak
|
||||||
Pada
tahun 2000 penduduk
Kabupaten Siak tercatat 238.786 ribu jiwa. Dalam waktu 5 tahun kemudian
penduduk Kabupaten Siak menjadi
309.845 jiwa. Dari tahun 2010-2005penduduk Kabupaten Siak menaik drastis sekitar 71.059 jiwa. Dan
Hasil SP2010 penduduk
Kabupaten Siak berkembang 377.200 jiwa. Dapat diketahui jika laju pertumbuhan
penduduk Kabupaten Siak dari tahun 2000-2010 sekitar 4,29 persen/tahun.
|
20.900
|
|
|
26.600
|
|
|
58.700
|
|
|
22.900
|
|
|
18.600
|
|
|
21.400
|
|
|
9.900
|
|
|
104.000
|
|
|
25.800
|
|
|
25.000
|
|
|
5.100
|
|
|
17.000
|
|
|
7.200
|
|
|
14.100
|
1.1.TUJUAN
·
Tujuan umum : secara umum tujuan
pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetauhi dan memahami tentang budaya
melayu masyarakat siak sri indrapura.
·
Tujuan khusus : secara khusus pembuatan
makalah ini bbertujuan untuk mengikuti proses pembelajaran dalam mata pelajaran
tamadun melayu.
BAB II
SISTEM
KEHIDUPAN MASYARAKAT
SIAK
SRI INDRAPURA
2.1. ADAT ISTIADAT
A. Adat Melayu diKerajaan Siak
Kerajaan Siak adalah pusat
pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Sultan dengan orang-ornag besarnya,
sehingga yang dilakukan dalam acara adat mempunyai sopan santun yang telah
diatur oleh Kerajaan dan Datuk- datuk dari Ketua Suku. Setiap pelanggaran adat
dan sopan santun oleh rakyatnya akan mendapat hukuan atau sanksi yang sesuai
dengan pelanggarannya. Didalam adat kerajaan siak ada beberapa aturan yaitu :
1. Adat Sebenar Adat
Maksud dari Adat Sebenar
Adat adalah prinsip-prinsip adat dikerajaan Siak yang tidak dapat diubah-ubah
karena sudah tersimpul dalam adat yang bersendikan syarak. Untuk itu ketentuan
addat yang bertentangan dengan hukum syarak Islam tidak boleh dipakai lagi.
Jika terjadi benturan maka hukum syaraklah yang berlaku dominan, hal ini telah
disabdakan oleh Sultan Siak Raja Kecik sewaktu beliau dinobatkan. Misalnya :
Dalam berpakaian haruslah menutup aurat.
2. Adat yang diadatkan
Adat ini adalah adat yang dibuat oleh Kerajaan
Siak oleh Sultan yang sedang berkuasa sebagai pemimpin pemerintahan dinegeri
Siak bersama Dewan Datuk sebagi penasehat Sultan pada kurun waktu tertentu dan
masa berlakunya adat yang diadatkan ini ialah sepanjang belum dirubah oleh
penguasa berikutnya atau Sultan penggantinya. Contohnya : Warna pakaian yang
boleh dipakai oleh Datuk, orang besar kerajaan dan isterinya, dilarang memakai
warna kuning karena itu adalah warna pakaina sultan dan keluarganya.
3. Adat
yang Teradat
Adat
ini adalah adat yang disusun bersama oleh Datuk-datuk kepala suku dengan
pemuka-pemuka dinegeri Siak pada masa kerajaan dahulu sejak berdirinya Kerajaan
Gasib sampai Kerajaan Siak yang dipimpin oleh Raja Kecik.
Adat
ini turun temurun dalam masyarakat melayu siak yang telah lama mentradisi dan
sudah menjadi pegangan bersama yang harus ditaati oleh rakyat siak. Terutama
pantang durhaka kepada raja dan kepada orang tua karena sumpah raja dan orang
tua sangat makbul.
Adat
ini menanamkan sopan santun kepada masyarakat dan rakyatnya terutama kepada
anak cucunya yang merupakan pewaris negeri siak.adat sopan santun sangat
diutamakan dalam masyarakat melayu siak. Dikerajaan Siak hidup dan berkembang
kebudayaan Tradisional yang kuat yang bernafaskan Islam, hal ini terlihat dari
beberapa upacara adat dimulai dari kelahiran sampai kematian. kebudayaan
tersebut akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya.
B. Kebudayaan Kerajaan Siak
1. Upacara menujuh bulan
Upacara
menujuh bulan yaitu upacara adat yang dilaksanakan pada saat seorang ibu yang
hamil anak sulungdalam usia kandungan tujuh bulan.
2. Upacara aqiqah, memberi nama, cukur rambut
dan turun mandi.
Upacara
ini dilakukan secara bersamaan, dimana anak yang baru dilahirkan dalam usia
tujuh hari atau lebih, diaqiqahkan dengan menyembelih satu ekor kambing untuk
anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Bersamaan dengan itu
dilakukan kenduri dengan menjemput orang rmai dan pada saat itu rambut sibayi
digunting, ditepung tawari sambil dibacakan puji-pujian kepad Rasul dan
kemudian dibacakan doa selamt dan doa member nama. Seterusnya bayi diturunkan
memijak tanah dan dimandikan dan terakhir diayun dibuaian.
3. Upacar
Khitanan dan Khatam Al-Qur'an anak laki-laki
Setiap
anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun dikhitankan, dan sebelum
dikhitankan dianya haruslah sudah khatam Al-Qur'an.
4. Upacara Perkawinan Pinangan
a.
Merisik
Awal dalam menentukan jodoh guna
mengetahui tentnag diri masing-masing calon yang meliputi keIslamannya, budi
pekerti atau kepribadiannya,pengetahuan, sudah berpunya atau belum dan lain
sebagainya.
b. Meminang
Setelah
didapati penjelasan yang lengkap dan dinyatakan sesuai, maka pihak lelaki melakukan perminangan kepada si Dara
yang diingini melalui perutusan orang yang dituakan. Pada saat meminang ini
juga diserahkan tanda pengikat berupa sebuah cincin emas belah rotan kepad
siDara.
c. Mengantar Belanja
Untuk persiapan pelaksanaan kenduri
perkawinan, maka pihak lelaki menyerahkan sejumlah uang kepada pihak
perempuan dan beberapa barang-barang antaran untuk keperluan pengantin
perempuan sebagai pengiring dari uang dimaksud, yang disebuat "
Antaran Belanja"
d. Pelaksaan pernikahan ( hari akad nikah )
Untuk
melaksanakan hari pernikahan ini dilakukan beberapa untaian
acara, diantaranya : - Menggantung Yaitu memasang kembes ( tenda ) membuat
pelamin, menghias rumah dan kamar pengantin. - Berinai Kedua
calon pengantin dipasangkan inai pada ujung jari tangan, ujung jari kaki serta
telapak tangan dan telapak kaki. Acara ini dilakukan pada malam hari sehingga
disebut " Malam Berinai ". - Berandam Berandam adalah kegiatan
membersihkan diri calon pengantin, terutama pengantin perempuan dengan
mencukur bulu roma diwajah, merapikan alis, anak rambut dikening maupun
ditengkuk dan diakhiri dengan mandi air wewangian dan air tolak bala. -
Akad nikah ( hari mengucap ijab Kabul ) Akad nikah adalah suatu uapacar yang
sacral menurut syariat Agama Islam, dimana orang tua ( ayah ) pengantin
perempuan menikahkan anaknya dengan seorang perjaka dan saling berikrar yang
disebut Ijab Kabul. Selesai akad nikah dilakukan menyembah orang tua ( ayah
& ibu ) dan seterusnya dilakukan upacaratepuk tepung tawar kedua pengantin
secara bergantian didahului oleh pengantin perempuan yang didudukkan
diatas pelaminan secara bergantian. Setelah selesai acara tepuk tepung tawar
dibacakan doa oleh seorang ulama islam. Mohon keselamatan dan kebahagian kedua
pengantin menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah. - Hari Langsung (
Hari Bersanding ) Pada hari yang telah disepakati dilakukan hari bersanding,
dimana pengantin laki- laki diarak dari rumah orang tuanya kerumah
pengantin perempuan, diiringi dengan music kompang dan sampai didepan halaman
rumah pengantin perempuan disambut dengan silat, dan setelah silat selesai
bertukar tepak antara kedua belah pihak dan juga ditaburkan beras kunyit
sebagai mengelu-elukan kedatangan pengantin. Pengantin laki-laki
menuju pintu rumah dan dipintu dilakukan pantun berbalas antara pihak yang
datang dengan pihak tuan rumah yang disebut dengan pantun buka pintu.
Setelah pintu dibuka maka pengantin laki-laki masuk kedalam rumah dan
didudukkan dipelaminan, disana sudah duduk pengantin perempuan menunggu
kedatangan pengantin laki-laki. Setelah beberapa saat duduk bersanding yang
disaksikan oleh khalayak ramai maka kedua peengantin dibawa turun kemuka
pelaminan untuk acara makan beradab antara dua pengantin dan didampingi oleh
sanak saudara dan keluarga kedua belah pihak. Makna makan beradab adalah
memberikan tujuk agar kepada kedua pengantin bagaimana tata cara makan bersama
suami isteri serta keluarga. - Mandi Damai Mandi damai dilakukan setelah
tiga hari upacara hari langsung atau acara bersanding. Mandi damai ini
dilaksanakan setelah terdapatnya perdamaian antara pengantin laki-laki dan
perempuan bahwa pengantin perempuan suci adanya. Upacara mandi damai ini
dilangsungkan dihalaman rumah pengantin perempuan dengan membuat balai-balai
menyerupai pelaminan yang dihiasi dengan daun kelapa muda dan bunga – bunga
hidup. Bagian dari upacara ini dilakukan acara berarak kumbo taman dimana semua
peralatan mandi berikut kelengkapannya seperti tepak sirih, air wewangian, air
tujuh bunga, buah kelapa, mayang pinang, cermin, cincin diikat bersambung
benang, talam berisikan beras dan padi serta peralatan lainnya, yaitu semprotan
air dari batang buluh ( bambu ). Setelah selesai acara mandi damai maka kedua
pengantin berganti pakaian dengan pakaian kering dan dilakukan acara mengasah
gigi, maksud dari mengasah gigi ini, bahwa pertanda pengantin perempuan itu
sudah mempunyai suami yang syah, akhir dari acara ini dilakukan acara menyembah
orang tua kedua belah pihak. - Berkunjung kerumah mertua Maksud dari berkunjung
kerumah mertua ini adalah untuk membina silahturahmi antara kedua
keluarga. Biasanya mertua dari pengantin perempuan ini member buah tangan untuk
dipakai oleh anak menantunya semasa beliau masih hidup bersama.
5. Meninggal
Dunia
Bila
seseorang telah meninggal dunia, oleh keluarga yang ditinggal melaksanakan
upacara Fardhu Kifayah yaitu memandikan, mengkafani , menshalatkan dan
dimakamkan. Pada hari-hari tertentu sesudah itu yaitu hari ketiga, ketujuh,
keempat puluh, keseratus sesudah kematian diadakan kenduri untuk arwah sambil
membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
6. Upacara adat lainnya
· Upacara adat lainnya yang terdapat didalam
Kerajaan Siak, antara lain :
· Uapacara membuka tanah peladangan
· Upacara mendirikan dan menaiki rumah baru
· Upacara pengobatan tradisional
· Upacara menyambut hari-hari besar islam
· Upacara menyambut bulan suci Ramadhan antara
lain acara petang megang dengan mandi air limau dan wangi-wangian.
· Uapacara menyambut Hari Raya Idul Fitri,
menyambut hari kemenangan bagi umat islam seperti adanya malam Lailatul Qadar,
Malam Tujuh Likur ( malam 27 ramadhan ) dengan memasang lampu colok beraneka
bentuk
· Upacara menghalau penyakit dalam kampung,
dengan melakukan Ratib Beranyut
· Upacara-upacara lainnya yang tidak
bertentangan dengan syariat islam.
Bentuk-bentuk
upacara budaya dan adat sudah mentradisi dimasyarakat Melayu kerajaan Siak
semenjak dari zaman raja terdahulu dari zaman pendiri kerajaan Siak Sultan
Abdul Jalil Rakhmad Syah dan keturunannya. Sebagaimana diungkapkan oleh orang
tua-tua bahwa : Adat tak boleh dianjak-anjak, Tak boleh dialih-alih, Jika
dianjak dia layu, jika dialih dia mati. Sampai saat ini adat istiadat ini
sebagian besar masih dianut oleh masyarakat Siak.
1.2. KESENIAN
Warisan seni dan budaya Melayu terus terjaga sampai saat ini. Dalam
festival Siak Bermadah sajian itu dikemas dalam aneka rupa dan rasa. Mengikuti
rentak dan kemajuan zaman yang membuat siapa saja terpesona menyaksikannya.
Acara ini merupakan kalender tahunan yang digelar menjelang Hari Ulang
Tahun (HUT) Kabupaten Siak. Di festival itu digelar stand yang menampilkan
potensi dari tiap kecamatan serta tentunya pentas hiburan rakyat. Festival
Siak Bermadah merupakan sebuah rangkaian visualisasi tradisi seni budaya Melayu
yang telah menjadi darah dan daging bagi orang-orang Siak, dalam keseharian dan
tutur laku. Madah yang bermakna sebuah perkataan, ucapan, syair senandung yang
indah yang keluar dari bangsa Melayu itu sendiri. Festival Siak Bermadah
ini merupakan wadah kreasi dan inovasi yang dilakukan para insan-insan yang
bergelut dalam seni dan budaya, melalui hasil karya yang inovatif dan kreatif
memiliki nilai plus. Dari tahun ke tahun budaya dan seni menunjukkan kemajuan
dan peningkatan. Para seniman telah melahirkan ide-ide kreativitas melalui
hasil karya yang ditampilkan. Ini menandakan bahwa budaya Melayu itu, sangat
relevan dengan kondisi dan perkembangan zaman. Adalah para tamu undangan
yang diundang dari daerah lain, baik dari kabupaten yang terdapat di provinsi
Riau, provinsi di luar Provinsi Riau dan dari luar negeri dan jazz festival,
yakni sebuah konsep baru untuk menyemarakkan Festival Siak
Bermadah. Sementara itu ada banyak perlombaan diadakan, antara lain; lomba
rebana, senandung menidurkan anak, marhaban dan berzanji, nasyid, tari zapin
tradisi; lagu Melayu, joget serampang dua belas, berbalas pantun, lawak Melayu,
bujang dan dara, tari kreasi, syair berpasangan, bazar dan pameran, adat
istiadat mengarak pengantin dan lomba dai cilik. (sumber : Riauterkini dan
Riaupos)
TENUN
SIAK
Kerajinan tangan yang sangat terkenal dari Siak semenjak dahulu adalah
kerajinan industri rumah yaitu kerajinan tenunan, karena berasal dari Siak maka
dinamakan Kain Tenun Siak. Semasa dahulu pekerjaan menenun hanya dikenal di
lingkungan istana saja sebagai pekerjaan sambilan. Namun sesuai dengan
perkembangan zaman, pekerjaan menenun merembes keluar tembok istana. Tenun Siak
adalah tenunan yang dibuat (ditenun) dengan menggunakan benang katun atau
benang sutera yang diberi motif benang emas dengan berbagai motif seperti pucuk
rebung, siku keluang, tampuk manggis, dan lain-lain. Dengan dimekarkannya Siak
menjadi Kabupaten, perhatian pemerintah terhadap perkembangan tenunan Siak
semakin besar, dan tenunan Siak sebagai barang bawaan atau cinderamata khas
dari Siak semakin diminati oleh para kolektor, masyarakat pemakai, dan para
pelancong yang datang ke Siak.
EJARAH TENUN SIAK : Orang pertama yang memperkenalkan Tenun
ini adalah seorang pengrajin yang didatangkan dari Kerajaan Terengganu Malaysia
pada masa Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali. Seorang wanita
bernama Wan Siti Binti Wan Karim dibawa ke Siak Sri Indrapura, beliau
adalah seorang yang cakap dan terampil dalam bertenun dan beliau mengajarkan
bagaimana bertenun kain songket. Karena pada saat itu hubungan kenegerian
Kesultanan Siak dengan negeri-negeri melayu di semenanjung sangat lah erat,
terutama juga dalam hal seni dan budaya melayu yang satu. Pada awalnya tenun
yang diajarkan adalah merupakan tenun tumpu dan kemudian bertukar ganti dengan
menggunakan alat yang dinamakan dengan “Kik”, dan kain yang dihasilkan disebut
dengan kain Tenun Siak. Pada awalnya kain Tenun Siak ini dibuat terbatas bagi
kalangan bangsawan saja terutama Sultan dan para keluarga serta para pembesar
kerajaan di kalangan Istana Siak. Kik adalah alat tenun yang cukup sederhana
dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter. Sesuai dengan ukuran alatnya,
maka lebar kain yang dihasilkan tidaklah lebar sehingga tidak cukup untuk satu
kain sarung, maka haruslah disambung dua yang disebut dengan kain “Berkampuh”.
Akibatnya untuk mendapatkan sehelai kain, terpaksa harus ditenun dua kali dan
kemudian hasilnya disambung untuk bagian atas dan bagian bawah yang sudah
barang tentu memakan waktu yang lama. Dalam bertenun memerlukan bahan baku
benang, baik sutera ataupun katun berwarna yang dipadukan dengan benang emas
sebagai ornamen (motif) atau hiasan. Dikarenakan benang sutera sudah susah
didapat, maka lama kelamaan orang hanya menggunakan benang katun. Dan pada saat
ini pula kain Tenun Songket Siak dikembangkan pula pembuatannnya melalui benang
sutera. Nama-nama motif tenun Songket Riau itu antara lain, Pucuk Rebung, Bunga
Teratai, Bunga Tanjung, Bunga Melur, Tapuk Manggis, Semut Beriring, Siku
Keluang. Semua motif ini dapat pula saling bersenyawa menjadi bentuk motif
baru.
Makanan
Khas dan Cafe di Turab
Ada beragam kuliner yang
tersedia di sepanjang cafe-cafe di turab, mulai dari masakan laut sampai
masakan khas melayu. Banyak cafe maupun warung-warung makan di sepanjang Turab
sungai Siak. Tak hanya sebagai tempat kuliner namun cocok juga sebagai lokasi
untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan Sungai Siak. Banyaknya
Cafe-cafe di sepanjang Turab sungai Siak ikut memacu kreativitas dalam
dekorasi-dekorasi unik dari cafe-cafe yang ada, tersedia juga model Pondok yang
lucu.
1.1. PAKAIAN
Berikut Penjelasan pakaian adat yang berada di
provinsi riau yang dapat bukde info rangkum secara singkat. Ada 4 Jenis pakaian
adat yang sering digunakan oleh masyarakat provinsi Riau, Berikut beberapa
jenis pakaian adat dan penjelasannya.
1.
Pakaian Upacara Adat
Gambar
: Pakaian Upacara Adat
Pakaian Upacara Adat digunakan sesuai apa yang
sedang ada acaranya, Seperti upacara penobatan raja, upacara penerimaan
anugerah, upacara penyambutan tamu, dan lain sebagainya, masyarakat Melayu Riau
menggunakan jenis pakaian adat yang berbeda. Laki-laki menggunakan Baju Kurung
Cekak Musang, sedangkan para perempuan menggunakan baju Baju Kurung Tulang Belut
(gadis) dan Baju Kebaya Laboh Cekak Musang (setengah baya) yang dibuat dari
kain sutra.
Baju kebaya yang dikenakan saat upacara adat
ada 2 jenis, yaitu yang berwarna hitam dan berwarna kuning. Warna hitam digunakan saat
upacara penobatan raja, pembesar, menteri, atau datuk. Sedangkan kebaya
berwarna kuning digunakan saat upacara penerimaan tamu agung atau upacara
penerimaan anugerah. Saat mengenakan baju adat tersebut, para perempuan akan
dihias rambutnya dengan sanggul joget, yaitu sanggul lipat pandan dengan hiasan
bunga goyang di bagian atasnya, jurai panjang di sebelah kanan, serta jurai
pendek di sebelah kiri.
2. Pakaian Upacara Perkawinan
Gambar : Pakaian Perkawinan
Baju pengantin laki-laki adat Melayu bernama
Baju Kurung Cekak Musang (Baju Kurung Teluk Belanga).
Baju adat Riau ini dilengkapi dengan kain sarung yang memiliki warna dan motif
sesuai baju kurungnya. Beberapa ornamen lain seperti mahkota di kepala, sebai
berwarna kuning di bahu bagian kiri, sepatu runcing, rantai panjang di leher,
canggai di kelingking, dan keris berkepala burung serindit diselipkan di
pinggang kiri.
Adapun untuk pengantin perempuan, mereka akan
mengenakan pakaian yang bermacam-macam tergantung dari upacaranya. Saat upacara
malam berinai, mereka menggunakan baju kurung teluk belanga, saat upacara
berandam, menggunakan baju kurung kebaya pendek saat upacara akad nikah
menggunakan baju kurung teluk, dan saat upacara bersanding menggunakan kebaya
laboh.
3. Pakaian Keseharian
Gambar : Pakaian Keseharian
Pakaian keseharian adalah pakaian yang
digunakan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Dibandingkan jenis pakaian adat
Riau yang lain, pakaian keseharian terbilang sangat sederhana. Tidak terlalu
banyak pernik dan aksesoris. Berdasarkan usia pemakainya, pakaian keseharian
dibedakan menjadi 3 yaitu:
·
Pakaian Keseharian
untuk Anak-anak Pakaian keseharian anak laki-laki dalam adat Riau disebut baju
monyet. Baju ini dipadukan dengan celana panjang atau tanggung, lengkap dengan
kopiah atau kain segiempat sebagai penutup kepalanya. Sementara untuk anak
perempuan, pakaian yang digunakan berupa baju kurung dengan motif bunga-bunga.
Pakaian keseharian adat Riau untuk anak-anak ini biasa digunakan saat mereka
mengaji atau menuntut ilmu.
·
Pakaian Keseharian
untuk Dewasa Laki-laki Melayu yang sudah dewasa mengenakan pakaian yang bernama
baju kurung cekak musang. Baju ini dikenakan bersama kain sarung dan kopiah.
Sementara perempuan Melayu dewasa memilih 3 jenis baju yang disebut Baju Kebaya
Pendek, Baju Kurung Laboh, dan Baju Kurung Tulang Belut. Baju-baju ini
digunakan bersama kain selendang sebagai penutup kepala saat pergi berladang.
·
Pakaian Keseharian
untuk Orangtua Laki-laki sepuh atau setengah baya mengenakan Baju Kurung Cekak
Musang atau Baju Kurung Teluk Belanga yang dibuat dari bahan kain lejo atau
kain katun. Sementara perempuan sepuhnya menggunakan Baju Kurung Teluk Belanga,
Baju Kebaya Pendek dan Kebaya Laboh lengkap dengan selendang dikenakan sebagai
kerudung.
4.
Pakaian
Resmi
Gambar : Pakaian Resmi
Di masa silam, pakaian resmi adat Riau hanya
dikenakan saat ada pertemuan resmi kerajaan. Akan tetapi, saat ini baju
tersebut lebih sering digunakan dalam acara resmi kepemerintahan. Pakaian adat
Riau yang resmi untuk laki-laki adalah Baju Kurung Cekak Musang yang dikenakan
lengkap bersama kopiah dan kain sarung tenun. Baju Kurung Cekak Musang sendiri
dibuat dari bahan jenis kain kualitas tinggi, seperti kain satin atau kain
sutra.
Adapun untuk perempuan, pakaian resmi yang
digunakan adalah Kebaya Laboh. Bahan yang digunakan untuk membuat pakaian
tersebut adalah kain tenun khas buatan masyarakat di daerah-daerah Riau,
seperti Siak, Indragiri, Trengganu, dan lain sebagainya. Kebaya untuk gadis
dibuat dengan panjang hingga 3 jari di atas lutut, sementara untuk perempuan
setengah baya dibuat 3 jari di bawah lutut.
Demikian pembahasan 4 jenis pakaian adat
provinsi riau yang digunakan oleh masyarakat riau. semoga dapat membantu
pembaca untuk menambah wawasannya.
2.4. MAKANAN KHAS
Tanah Melayu memiliki ragam kuliner yang tidak biasa dan terpengaruh
dari kekayaan budayanya. Makanan-makanan Melayu bercita-rasa yang kuat dan kaya
. Jika Anda berkunjung ke Riau dan daerah lainnya
1. Bolu Kemojo
Makanan
Khas Siak: Bolu Kemojo
Bolu Kemojo adalah
makanan khas Melayu Riau. Kue ini selalu jadi hidangan istimewa pada saat
hajatan / kenduri dan sering disajikan untuk menu buka puasa serta jadi sajian
bagi tamu dihari raya Idul Fitri.
Jika Anda melancong ke Pekanbaru, Batam, atau kota-kota lain di Propinsi Riau, jangan sampai tak mencicipi dan tidak membawa pulang Bolu Kemojo sebagai oleh-oleh.
Jika Anda melancong ke Pekanbaru, Batam, atau kota-kota lain di Propinsi Riau, jangan sampai tak mencicipi dan tidak membawa pulang Bolu Kemojo sebagai oleh-oleh.
2.
Roti
Jala dan Roti Canai
Makanan
Khas Siak: Roti Canai
Roti jala & Roti Canai adalah makanan yang
berasal dari India dan di adopsi oleh Indonesia. Biasanya makanan ini
disuguhkan bersama kare.
3.
Asidah
Makanan
Khas Siak: Asidah
Kue ini namanya Asidah, teksturnya lembut dan
rasanya manis perpaduan rempah spt cengkeh, kayu manis dan daun pandan. yg
anehnya kue ini dimakan pake bawang goreng. kue ini bisa dibentuk sesuka hati.
4.
Kue
Bangkit
Makanan
Khas Siak: Kue Bangkit
Kue kering ini berbahan dasar tepung rasanya
manis,renyah dan enak. Rasanya manis legit dengan rasa lembut dilidah, juga
gurih.
5.
Cencalok
Makanan
Khas Siak: Cencalok
Cencalok ialah sejenis lauk dalam hidangan
tradisional melayu. makanan ini dibuat dari udang halus, cencaluk mengandungi
kandungan protein yang tinggi.
6.
Lempuk
Durian
Makanan
Khas Siak: Lempuk Durian
Lempuk Durian adalah salah satu Jenis Makanan
Khas dari Riau yang terbuat dari Durian, lempuk ini berbentuk seperti dodol.
Selain di Riau,lempuk juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa
yang tak kenal dengan lempuk durian, “Makanan Khas Riau” ini berasal dari
Kabupaten Bengkalis, bahkan lempuk sudai menjadi ikon Bengkalis, jika kita
berkunjung ke Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan
Lempuk Durian.
7. Es Laksamana Mengamuk
Makanan
Khas Siak: Es Laksamana Mengamuk
Es Laksamana Mengamuk merupakan minuman dingin yang menggunakan buah kuini sebagai
bahan utama. Konon, keberadaan minuman ini berawal dari mengamuknya seorang
laksamana di kebun kuini. Laksamana tersebut mengamuk lantaran istrinya dibawa
lari oleh pemilik kebun kuini tersebut. Sang laksamana menebas-nebaskan
pedangnya ke seluruh penjuru, hingga puluhan buah kuini hancur karena
kemarahannya ini. Usai sang laksamana menuntaskan kemarahannya dan pulang,
orang-orang di sekitar kebun kuini mengambil puluhan buah kuini yang sudah
tercincang dan terhampar di rumput. Pada awalnya, orang-orang tersebut bingung,
akan diapakan buah kuini yang telah terpotong-potong tersebut. Hingga salah
seorang wantia, mencampurkan potongan-potongan buah kuini itu dengan air santan
dan gula merah. Jadilah minuman segar, yang pada waktu itu, langsung dinikmati
oleh orang sekampung.
8.
Es Air Mata Pengantin
Makanan
Khas Siak: Es Air Mata Pengantin
Es air mata pengantin terdiri dari bermacam
agar-agar berwarna-warni. Es ini sekaligus dilengkapi biji selasih, nata de
coco, dan blewah serta serutan es batu.
2.4. KEBUDAYAAN
Kerajaan Siak Sri Indrapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang
pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Siak Sri Inderapura
merupakan kerajaan Islam, yang didirikan di Buantan oleh Raja Kecik dari
Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya
terlibat dalam perebutan tahta Johor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya
Kesultanan Siak muncul menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan di pesisir
timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan Imperialisme Eropa.
Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat,
sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan.
Kerajaan
Melayu Siak berkembang dan tumbuh dari zaman berdirinya Kerajaan Gasib yang
menganut agama Hindu / Budhab yang merupakan perpecahan Kerajaan Sriwijaya yang
pernah berpusat diMuara Takus pada abad ke XI-XII, Kerajaan Sriwijaya adalah
kerajaan yang berkembang dengan pesat dan gemilang pada zamannya. Kerajaan Sriwijaya
yang pernah berpusat diMuara Takus, runtuh pada abad awal abad XIII, sehingga
timbul kerajaan-kerajaan kecil yang masih menganut agama Hindu / Budha seperti
diLubuk Jambi, Keritang, Kandis, Bintan dan Tumasik.
Kerajaan
Gasib adalah perpecahan kerajaan Sriwijaya yang masih menganut agama Hindu /
Budha, yang kesenian dan kebudayaannya berhubungan dengan agama yang dianutnya.
Sisa-sisa dari kebudayaan itu terdapat dimasyarakat Gasib saat ini dan masih
berakulturasi dengan kebudayaan dan kesenian Melayu Siak yang sudah menganut
agama islam, seperti memakai Dupa apabila membaca do'a. kerajaan Siak adalah
pewaris dari kerajaan Melaka, Johor Riau, maka adat dan budaya dikerajaan siak
adalah adat dan budaya bersendikan syariat islam yang disebut addat bersendi
syarak, dan syarak bersendikan kitabullah. Bagi orang Melayu Siak, yang disebut
orang Melayu itu adalah beradat istiadat Melayu, berbahasa Melayu dan beragama
islam. Jadi adat dan budayanya bernafaskan islam, jika seseorang massuk islam maka
ia disebut orang Melayu.
Raja
Kecik sebagai pendiri kerajaan siak telah meletakkan islam sebagai agama resmi
dikerajaan siak, yang diumukan semasa beliau dinobatkan sebagai Sultan siak
pertama yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah. Kerajaan siak adalah
keturunan Kerajaan Melaka yang tidak terlepas dari kebudayaan dan keseniannya
tidak terlepas dari Kerajaan Melayu Melaka, namum terdapat pengaruh unsur-unsur
adat dan budaya serta kesenian dari suku-suku yang telah lama mendiami negeri
Siak. Selain itu ada juga pengaruh dari budaya dan kesenian dari Cina, Thailand
, Arab, Persi, India serta suku-suku pendatang dari Nusantara Indonesia
menyebabkan terjadinya akulturasi kebudayaan asli Siak dengan mereka sehingga
terbentuk kebudayaan dikerajaan siak,
Pasang
surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan
jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II, menyatakan
kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia. Dari proses yang banyak
terjadi dalam kerajaan siak menghasilkan berbagai adat dan kebudayaan, yang
akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya diantaranya :
A.
Adat
Melayu di Kerajaan Siak
Kerajaan
Siak adalah pusat pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Sultan dengan
orang-ornag besarnya, sehingga yang dilakukan dalam acara adat mempunyai sopan
santun yang telah diatur oleh Kerajaan dan Datuk- datuk dari Ketua Suku. Setiap
pelanggaran adat dan sopan santun oleh rakyatnya akan mendapat hukuan atau
sanksi yang sesuai dengan pelanggarannya. Didalam adat kerajaan siak ada
beberapa aturan yaitu :
1.
Adat
Sebenar Adat
Maksud
dari Adat Sebenar Adat adalah prinsip-prinsip adat dikerajaan Siak yang tidak
dapat diubah-ubah karena sudah tersimpul dalam adat yang bersendikan syarak.
Untuk itu ketentuan addat yang bertentangan dengan hukum syarak Islam tidak
boleh dipakai lagi. Jika terjadi benturan maka hukum syaraklah yang berlaku
dominan, hal ini telah disabdakan oleh Sultan Siak Raja Kecik sewaktu beliau
dinobatkan. Misalnya : Dalam berpakaian haruslah menutup aurat.
2.
Adat
yang diadatkan
Adat ini adalah adat yang dibuat oleh Kerajaan Siak oleh Sultan
yang sedang berkuasa sebagai pemimpin pemerintahan dinegeri Siak bersama Dewan
Datuk sebagi penasehat Sultan pada kurun waktu tertentu dan masa berlakunya
adat yang diadatkan ini ialah sepanjang belum dirubah oleh penguasa berikutnya
atau Sultan penggantinya. Contohnya : Warna pakaian yang boleh dipakai oleh
Datuk, orang besar kerajaan dan isterinya, dilarang memakai warna kuning karena
itu adalah warna pakaina sultan dan keluarganya.
3.
Adat
yang Teradat
Adat ini adalah adat yang disusun bersama oleh Datuk-datuk kepala
suku dengan pemuka-pemuka dinegeri Siak pada masa kerajaan dahulu sejak
berdirinya Kerajaan Gasib sampai Kerajaan Siak yang dipimpin oleh Raja Kecik.
Adat ini turun temurun dalam masyarakat melayu siak yang telah lama mentradisi
dan sudah menjadi pegangan bersama yang harus ditaati oleh rakyat siak.
Terutama pantang durhaka kepada raja dan kepada orang tua karena sumpah raja
dan orang tua sangat makbul.
Adat ini menanamkan sopan santun kepada masyarakat dan rakyatnya
terutama kepada anak cucunya yang merupakan pewaris negeri siak.adat sopan
santun sangat diutamakan dalam masyarakat melayu siak. Dikerajaan Siak hidup
dan berkembang kebudayaan Tradisional yang kuat yang bernafaskan Islam, hal ini
terlihat dari beberapa upacara adat dimulai dari kelahiran sampai kematian.
kebudayaan tersebut akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya.
B. Kebudayaan Kerajaan Siak
1. Upacara menujuh bulan
Upacara menujuh bulan yaitu upacara adat yang dilaksanakan pada saat
seorang ibu yang hamil anak sulungdalam usia kandungan tujuh bulan.
1.
Upacara
aqiqah memberi nama, cukur rambut dan turun mandi
Upacara ini dilakukan secara bersamaan, dimana anak yang baru dilahirkan
dalam usia tujuh hari atau lebih, diaqiqahkan dengan menyembelih satu ekor
kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki.
Bersamaan dengan itu dilakukan kenduri dengan menjemput orang rmai dan pada
saat itu rambut sibayi digunting, ditepung tawari sambil dibacakan puji-pujian
kepad Rasul dan kemudian dibacakan doa selamt dan doa member nama. Seterusnya
bayi diturunkan memijak tanah dan dimandikan dan terakhir diayun dibuaian.
2. Upacar Khitanan dan Khatam
Al-Qur'an anak laki-laki
Setiap
anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun dikhitankan, dan sebelum
dikhitankan dianya haruslah sudah khatam Al-Qur'an.
3.
Upacara
adat perkawinan
Upacara adat perkawinan ini terbagi dalam beberapa tahap upacara, antara
lain sebagai berikut.
·
Merisik
Pelaksaan merisik ini dilakukan secara bertahap oleh keluarga pihak laki-laki.
Mereka mengirim utusan kepada pihak keluarga perempuan terutama kedua orang
tuanya dengan maksud menanyakan kepada keluarga perempuan itu apakah anak
gadisnya telah dipinang orang atau sudah mengikat janji dengan seseorang.
Seandainya belum, maka kedatangan mereka untuk menjalin hubungan kekeluargaan.
Tahap ini dilakukan oleh orang tua pria setelah mendapat informasi dari anak
bujangnya bahwa ada seorang dara yang telah menjadi idaman hatinya, maka
dilaksanakanlah acara merisik secara diam-diam kepada sang gadis. Acara merisik
ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku dan sopan santun calon manantu
tersebut baik terhadap orang tuanya, keluarganya, dan masyarakat di kampung. Di
samping itu, juga pula di selidiki bagaimana ketekunannya mengurus rumah
tangga, pandai atau tidak tidak bertenun, serta ketaatannya dengan perintah
allah. Hal demikian juga tidak lepas dari penyilidikan orang tua pihak wanita
terhadap calon menantunya, apakah pemuda itu menghormati orang tua, sopan
santun serta senang bergaul sesama di kampung, rajin bekerja dan sifat terpuji
lainnya. Seandainya hal yang telah di ingat oleh kedua belah pihak berkenan
maka di lanjutkan upacara berikutnya.
·
Meminang Setelah mendapat kepastian dari si
gadis maupun keluarganya maka di lakukan acara meminang dengan terlebih dahulu
mengirim utusan orang tua-tua yang bijaksana, pandai bertutur secara adat
melayu serta di iringi tepak sirih sebagai pembuka kata. Upacara meminang ini
dilakukan dengan bahasa pantun dan pepatah petitih sehingga upacara yang di
maksud dapat di sampaikan. Kata berbalas, gayung bersambut, dapat mufakat bila
antaran belanja dilaksanakan.
·
Acara
hantaran belanja Antar belanja atau yang biasanya dikenal dengan
dilakukan beberapa hari sebelum upacara akad atau sekaligus menjadi satu
rangkaian dalam upacara akad nikah. Jika antar belanja diserahkan pada saat
berlangsungnya acara perkawinan, maka antar belanja diserahkan sebelum upacara
akad nikah. Beramai-ramai, beriring-iringan, kerabat calon pengantin laki-laki
membawa antara belanja kepada calon pengantin wanita.
Konsep pemikiran dari
upacara antar belanja adalah simbol dari peribahasa-peribahasa seperti rasa
senasib sepenanggungan,rasa seaib dan semalu, yang berat sama dipikul yang
ringan sama dijinjing. Makna dalam upacara antar belanja ini adalah rasa
kekeluargaan yang terbangun antara keluarga pengantin laki-laki dan pengantin
perempuan. Oleh karena makna dan tujuannnya adalah membangun rasa kekeluargaan,
maka tidak dibenarkan jumlah diantarkan menimbulkan masalah yang menyakiti
perasaan di antara mereka. Ungkapan adat mengajarkan: Adat Melayu sejak
dahulu Antar belanja menebus malu Tanda senasib seaib semalu Berat dan
ringan bantu-membantu .
·
Menggantung
Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau
persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan
dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah
atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan
upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah: membuat tenda
dan dekorasi, menggantung perlengkapan pentas, menghiasi kamar tidur pengantin,
serta menghiasi tempat bersanding kedua calon mempelai. Upacara ini menadakan
bahwa budaya gotong-royong masih sangat kuat dalam tradisi Melayu. Upacara ini
harus dilakukan secara teliti dan perlu disimak oleh orang-orang yang dituakan
agar tidak terjadi salah pasang, salah letak, salah pakai, dan sebagainya.
Ungkapan adat mengajarkan hal ini sebagai berikut: Adat orang
berhelat jamu Menggantung-gantung lebih dahulu Menggantung mana yang patut Memasang
mana yang layak Sesuai menurut alur patutnya Sesuai menurut adat lembaga
Supaya helat memakai adat Supaya kerja tak sia-sia Supaya tidak tersalah pasang
Supaya tidak tersalah pakai.
·
Malam
berinai Adat atau upacara berinai merupakan pengaruh dari ajaran Hindu. Makna
dan tujuan dari perhelatan upacara ini adalah untuk menjauhkan diri dari
bencana, membersihkan diri dari hal-hal yang kotor, dan menjaga diri segala hal
yang tidak baik. Di samping itu tujuannya juga untuk memperindah calon
pengantin agar terlihat lebih tampak bercahaya, menarik, dan cerah. Upacara ini
merupakan lambang kesiapan pasangan calon pengantin untuk meninggalkan hidup
menyendiri dan kemudian menuju kehidupan rumah tangga. Dalam ungkapan adat
disebutkan: Malam berinai disebut orang Membuang sial muka belakang
Memagar diri dari jembalang Supaya hajat tidak terhalang Supaya niat tidak
tergalang Supaya sejuk mata memandang Muka bagai bulan mengambang Serinya naik
tuah pun datang Berinai bukan sekadar memerahkan kuku, namun memper- siapkan
pengantin agar dapat menjalani pernikahan tanpa aral halangan. Upacara
ini dilakukan pada malam hari, yaitu dimalam sebelum upacara perkawinan
dilangsungkan. Bentuk kegiatannya bermacam-macam asalkan bertujuan
mempersiapkan pengantin agar tidak menemui masalah di kemudian hari. Dalam
upacara ini yang terkenal biasanya adalah kegiatan memerahkan kuku, tetapi
sebenarnya masih banyak hal lain yang perlu dilakukan. Upacara ini dilakukan
oleh Mak Andam dibantu oleh sanak famili dan kerabat dekat. Upacara berinai
bagi pasangan calon pengantin dilakukan dalam waktu yang bersama-sama. Hanya
saja, secara teknis tempat kegiatan ini dilakukan secara terpisah, bagi
pengantin perempuan dilakukan di rumahnya sendiri dan bagi pengantin laki-laki
dilakukan di rumahnya sendiri atau tempat yang disinggahinya. Namun, dalam adat
perkawinan Melayu biasanya pengantin lak-laki lebih didahulukan.
·
Upacara
berandam Upacara berandam dilakukan pada sore hari ba'da Ashar yang dipimpin
oleh Mak Andam didampingi oleh orang tua atau keluarga terdekat dari pengantin
perempuan. Awalnya dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan terlebih
dahulu yang diringi dengan musik rebana. Setelah itu baru kemudian dilakukan
kegatan berandam di tempat calon pengantin laki-laki. Sebelum berandam kedua
calon pengantin harus mandi berlimau dan berganggang terlebih dahulu. Makna
dari upacara berandam adalah membersihkan fisik (lahiriah) pengantin dengan
harapan agar batinnya juga bersih. Makna simbolisnya adalah sebagai lambang
kebersihan diri untuk menghadapi dan menempuh hidup baru. Sebagaimana
disebutkan dalam ungkapan adat: Adat Berandam disebut orang
Membuang segala yang kotor Membuang segala yang buruk Membuang segala sial
Membuang segala pemali Membuang segala pembenci Supaya seri naik ke muka Supaya
tuah naik ke kepala Supaya suci lahir batinnya Kecantikan budi mestilah yang
utama keelokan paras tiada boleh terlupa. Untuk itulah, Mak Andam merias
calon pengantin agar kemolekan makin ternampak nyata./ Berandam yang paling
utama adalah mencukur rambut karena bagian tubuh ini merupakan letak kecantikan
mahkota perempuan. Di samping itu, berandam juga mencakup kegiatan: mencukur
dan membersihkan rambut-rambut tipis sekitar wajah, leher, dan tengkuk;
memperindah kening; menaikkan seri muka dengan menggunakan sirih pinang dan
jampi serapah. Setelah berandam kemudian dilakukan kegiatan mandi tolak bala,
yaitu memandikan pengantin dengan menggunakan air bunga dengan 5, 7, atau 9
jenis bunga agar terlihat segar dan berseri. Kegiatan ini harus dilakukan
sebelum waktu shalat ashar. Mandi tolak bala kadang disebut juga dengan istilah
''mandi bunga''. Tujuan mandi ini adalah menyempurnakan kesucian, menaikkan
seri wajah, dan menjauhkan dari segala bencana. Dalam ungkapan adat
disebutkan: Mandi Bunga atau Mandi Tolak Bala bukan sekadar untuk meng-
harumkan raga, namun agar jiwa bersih suci, jauh dari iri dengki Hakekat mandi
tolak bala Menolak segala bala Menolak segala petaka Menolak segala celaka
Menolak segala yang berbisa Supaya menjauh dendam kesumat Supaya menjauh segala
yang jahat Supaya menjauh kutuk dan laknat Supaya setan tidak mendekat Supaya
iblis tidak melekat Supaya terkabul pinta dan niat Supaya selamat dunia
akhirat
·
Upacara
khatam al-qur'an Pelaksanaan upacara khatam Qur'an biasanya dilakukan setelah
upacara berandam dan mandi tolak bala sebagai bentuk penyempurnaan diri, baik
secara lahir maupun batin. Upacara khatam Qur'an sebenarnya bermaksud
menunjukkan bahwa pengantin perempuan sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya
tentang bagaimana mempelajari agama Islam dengan baik. Dengan demikian, sebagai
pengantin perempuan dirinya telah dianggap siap untuk memerankan posisi barunya
sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Di samping itu tujuan
lainnya adalah untuk menunjukkan bahwa keluarga calon pengantin perempuan
merupakan keluarga yang kuat dalam menganut ajaran Islam, sebagaimana
dinyatakan dalam ungkapan adat: Pendidikan boleh tiada tamat, ijazah
boleh tiada dapat, tetapi khatam Al Qur'an tiada boleh terlewat. Dari
kecil cincilak padi Sudah besar cincilak Padang Dari kecil duduk
mengaji Sudah besar tegakkan sembahyang Upacara ini dipimpin oleh guru
mengajinya atau orang tua yang ditunjuk oleh keluarga dari pihak pengantin.
Upacara ini khusus dilakukan oleh calon pengantin perempuan yang biasanya perlu
didampingi oleh kedua orang tua, atau teman sebaya, atau guru yang mengajarinya
mengaji. Mereka duduk di atas tilam di depan pelaminan. Mereka membaca surat
Dhuha sampai dengan surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur'an lainnya yang
diakhiri dengan doa khatam al-Qur'an v Acara akad nikah Ketika rombongan
calon pengantin laki-laki Upacara akad nikah merupakan inti dari seluruh
rangkaian upacara perkawinan. Sebagaimana lazimnya dalam adat perkawinan
menurut ajaran Islam, upacara akad nikah harus mengandung pengertian ijab dan
qabul. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa: Seutama-utama upacara
pernikahan Ialah ijab kabulnya Di situlah ijab disampaikan Si situlah
kabul dilahirkan Di situlah syarak ditegakkan Di situlah adat didirikan Di
situlah janji dibuhul Di situlah simpai diikat Di situlah simpul dimatikan
Tanda sah bersuami isteri Tanda halal hidup serumah Tanda bersatu tali darah
Tanda terwujud sunnah Nabi Dengan terucapnya ijab dan kabul, tanggung jawab
ayah atas anak gadisnya beralih sudah kepada menantu laki-laki. Pemimpin
upacara ini biasanya adalah kadi atau pejabat lain yang berwenang. Setelah
penyataan ijab dan qabul telah dianggap sah oleh para saksi, kemudian dibacakan
doa /walimatul urusy/ yang dipimpin oleh kadi atau orang yang telah ditunjuk.
Setelah itu, baru kemudian pengantin laki-laki mengucapkan /taklik/ (janji
nikah) yang dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Janji Nikah. Penyerahan
mahar oleh pengantin laki-laki baru dilakukan sesudahnya.
·
Upacara
sembahan Setelah upacara akad nikah selesai
dilakukan seluruhnya, kedua pengantin kemudian melakukan upacara menyembah
kepada ibu, bapak, dan seluruh sanak keluarga terdekat. Makna dari
upacara ini tidak terlepas dari harapan agar berkah yang didapat pengantin
nantinya berlipat ganda. Acara ini dipimpin oleh orang yang dituakan bersama
Mak Andam. Sembah sujud kepada orang tua tiada boleh lupa, agar tuah dan berkah
turun berlipat ganda.
·
Tepuk
tepung tawar Setelah upacara menyembah selesai, kemudian dilanjutkan dengan
upacara tepuk tepung tawar. Makna dari upacara adalah pemberian doa dan restu
bagi kesejahteraan kedua pengantin dan seluruh keluarganya, di samping itu juga
bermakna sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan yang mungkin
diterimanya kelak. Upacara ini dilakukan oleh unsur keluarga terdekat, unsur
pemimpin atau tokoh masyarakat, dan unsur ulama. Yang melakukan tepung tawar
terakhir juga bertindak sebagai pembaca doa. /Tepuk Tepung Tawar hakikatnya
adalah pertanda, bahwa para tetua melimpahkan restu dan doa, bahwa marwah
pengantin kekal terjaga. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa makna dari Tepuk
Tepung Tawar adalah : Menawar segala yang berbisa Menolak segala yang
menganiaya Menepis segala yang berbahaya Mendingin segala yang menggoda
Menjauhkan dari segala yang menggila Jadi, upacara Tepuk Tepung Tawar bermakna
sebagai doa dan pengharapan. Dalam pantun nasehat disebutkan: Di dalam
Tepuk Tepung Tawar, terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpateri
segala harap, tertuang segala kasih sayang. Dalam pantun lain disebut juga
bahwa:
Tepung
tawar untuk penawar Supaya hidup tidak bertengkar Wabah penyakit tidak menular
Semua urusan berjalan lancar Kegiatan ini dilakukan dengan rincian: menaburkan
tepung tawar ke telapak tangan kedua pengantin, mengoleskan inai ke telapak
tangan mereka, dan menaburkan beras kunyit dalam bunga rampai kepada kedua
pengantin. Setelah upacara ini selesai berarti telah selesai upacara inti
perkawinan. Setelah itu tinggal melakukan upacara-upacara pendukung lainnya,
seperti upacara nasehat perkawinan dan jamuan makan bersama.
·
Mengarak
pengantin lelaki Upacara ini bentuknya adalah mengarak pengantin laki-laki ke
rumah orang tua pengantin perempuan. Tujuan dari upacara ini sebagai media
pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sekitar tempat dilangsungkannya
perkawinan bahwa salah seorang dari warganya telah sah menjadi pasangan
suami-istri. Di samping itu, tujuanya adalah memberitahukan kepada semua
lapisan masyarakat agar turut meramaikan acara perkawinan tersebut, termasuk
ikut memberikan doa kepada kedua pengantin. Upacara ini beragam bentuknya,
tergantung adat yang berlaku di masing-masing daerah Melayu. Bernaung payung
iram, diiringi rentak rebana dan gendang,pengantin laki-laki datang kepada dewi
pujaan. Dalam upacara arak-arakan ini, yang dibawa adalah beragam alat kelengkapan.
Namun, yang paling utama dibawa adalah jambar (di Riau lebih dikenal dengan
semerit, pahar ,poha, dulang berkaki). Isi dalam jambar terdiri dari tiga
unsur, yaitu: unsur kain baju atau pakaian dengan kelengkapan perias, unsur
makanan, dan unsur peralatan dapur. Ketiga unsur tersebut mengandung makna
tentang kehidupan manusia sehari-hari. Jumlah jambar ditentukan berdasarkan
adat setempat, asalkan maknanya sesuai dengan nilai Islam. Jumlah 17 adalah
sama dengan jumlah rukun shalat, jumlah 17 terkait dengan jumlah rakaat sehari
semalam, dan jumlah 25 terkait dengan jumlah rasul pilihan. Sesampainya
rombongan arak-arakan pengantin laki-laki di kediaman keluarga pengantin
perempuan, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Dalam budaya Melayu,
upacara penyambutan tersebut mempunyai makna yang sangat dalam. Oleh karenanya,
pengantin laki-laki perlu disambut dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk
ketulushatian dalam menerima kedatangan mereka. Upacara pencak silat merupakan
perlambang kepiawaian pengantin laki-laki menghadapi tantangan. Upacara
penyambutan arak-arakan pengantin laki-laki biasanya bentuknya tiga macam,
yaitu permainan pencak silat, bertukar tepak induk, dan berbalas pantun pembuka
pintu. Dalam kegiatan permainan pencak silat, makna yang terkandung di dalamnya
adalah bahwa pengantin laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga perlu
ditantang kejantanan dan kepiawainnya. Meski hanya sebagai simbol, pencak silat
juga mengandung makna persahabatan dan kasih sayang yang dibungkus dengan jiwa
kepahlawanan. Setelah permainan silat, rombongan pengantin melanjutkan
perjalanannya, biasanya diteruskan dengan kegiatan perang beras kunyit antara
pihak pengantin laki-laki dan pihak yang menyambutnya. Perang Beras Kunyit
antar kedua pihak pengantin, bukan mengobarkan permusuhan, melainkan
menyuburkan persaudaraan. Setelah permainan silat dan perang beras kunyit
selesai, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bertukar tepak induk. Kenapa
tepak perlu ditukar? Sebab, simbol tepak melambangkan rasa tulus hati dalam
menyambut tamu dan juga sebagai lambang persaudaraan. Isi dalam tepak berupa
daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Kegiatan ini dilakukan setelah
rombongan pengantin laki-laki masuk ke halaman rumah pengantin perempuan.
Kegiatan ini dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Bertukar Tepak
melambangkan ketulusan hati dan bersebatinya dua keluarga menjadi satu.
Kegiatan terakhir dalam upacara langsung adalah berbalas pantun pembuka pintu
yang dilakukan di ambang pintu rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini
bentuknya adalah saling bersahutan pantun antara pemantun pihak pengantin
laki-laki dengan pemantun pihak pengantin perempuan yang disaksikan oleh Mak
Adam. Fungsi dari kegiatan ini biasanya dipahami sebagai bentuk izin untuk
memasuki rumah pengantin perempuan. Setelah Mak Adam atau pemantun pihak
pengantin perempuan membuka kain penghalang pintu dan mempersilahkan tamu untuk
masuk, maka kegiatan ini dianggap selesai. Berbalas pantun Pembuka Pintu
menunjukkan adab sopan santun pengantin laki-laki memasuki kehidupan pengantin
perempuan. Upacara Bersanding Acara bersanding merupakan puncak dari
seluruh upacara perkawinan. Setelah pasangan pengantin berijab-kabul, pengantin
laki-laki akan balik ke tempat persinggahannya untuk beristirahat sejenak.
Demikian halnya pengantin perempuan perlu kembali ke balik bilik untuk
istirahat juga. Setelah keduanya beristirahat kemudian dilangsungkan upacara
bersanding. Wakil pihak pengantin perempuan menemui wakil pihak pengantin
laki-laki dengan membawa sebuah bunga yang telah dihias dengan begitu indah.
Bunga yang diberikan ini menandakan bahwa pengantin perempuan telah siap
menanti kedatangan pengantin laki-laki ke tempat persandingan. Pengantin
laki-laki kemudian dijemput untuk disandingkan dengan pasangannya.
·
Bersanding
Menyandingkan penganting laki-laki dengan pengantin perempuan yang disaksikan
oleh seluruh keluarga, sahabat, dan jemputan. Inti dari kegiatan ini adalah
mengumumkan kepada khalayak umum bahwa pasangan pengantin sudah sah sebagai
pasangan suami-istri. Seperti halnya dilakukan dalam upacara akad nikah,
dalam upacara langsung juga dilakukan tepuk tepung tawar untuk mengantisipasi
jika ada yang belum sempat menyaksikannya pada upacara akad. Sebagaimana
disebutkan dalam ungkapan adat sebagai berikut: Tiada saat seindah
ketika bersanding di pelaminan, bertabur senyum, salam, dan sejahtera Apabila
pengantin duduk bersanding Sampailah niat usailah runding Tanda pasangan sudah
sebanding Hilanglah batas habis pendinding Dalam ungkapan adat lain disebutkan
Pengantin bersanding bagaikan raja Disaksikan oleh tua dan muda Tanda bersatu
kedua keluarga Pahit dan manis sama dirasa Kesimpulan Kebudayaan
merupakan hasil budi manusia dalam berbagai bentuk dan menifestasinya yang di
kenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku melainkan selalu
berkembang dan berubah membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Salah satu bentuk daripada
kebudayaan ini adalah adat istiadat. Adat istiadat merupakan sekumpulan
aspek-aspek kebiasaan yang telah mendiami dalam sekelompok orang atau
masyarakat. Salah satu bentuk dari istiadat ini pula berupa upacara adat
istiadat perkawinan yang ada di kabupaten siak. Adat istiadat ini berpusat pada
siak sri indrapura yang di susun dan di tata oleh seorang raja dan orang-orang
besar kerajaan. Adat istiadat ini merupakan hasil warisan budaya siak dari
upacara adat perkawinan raja-raja melayu yang dulunya sebagai pusat
kerajaan melayu. Adat istiadat ini memiliki bentuk kesamaan dan mempunyai
perbedaan yang berlaku di kawasan masing-masing. Upacara adat perkawinan ini
terbagi dalam beberapa tahap upacara antara lain sebagai berikut.
-
Merisik
-
Meminang
-
Hantaran
Belanja ·
-
Menggantung
·
-
Malam
berinai ·
-
Berandam
-
Akad
nikah
-
Berkhatam
·
-
Menyembah
-
Tepung
tawar
-
Mengarak
pengantin laki-laki
-
Bersanding
Seiring dengan
berkembangnya zaman, kebudayaan tersebut berubah sedikit demi sedikit. Hal
tersebut merupakan suatu sikap sekelompok dari orang untuk menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya dan perubahan zaman.
1.6.
TEMPAT WISATA
1. Istana Siak
Istana Siak pastinya
menjadi objek wisata pertama yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Siak Sri Indrapura.
Di dalam istana ini, kita bisa melihat kemegahan kerajaan Siak Sri Indrapura
pada masanya. Kita juga bisa mendengar langsung cerita sejarah kerajaan Siak
termasuk silsilah sultan-sultannya yang masih berkaitan dengan kesultanan
Malaysia.
Istana ini beroperasi
setiap hari Senin sampai Minggu, mulai dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore.
Khusus hari Jum’at, istana ini tutup sementara mulai pukul 11 siang, dan akan
buka kembali mulai pukul 2 siang. Harga tiket masuknya cukup murah, berkisar
Rp3.000 untuk wisatawan domestik dan Rp10.000 untuk wisatawan mancanegara.
2. Masjid Syahabuddin
Masjid ini letaknya dekat
sekali dengan Istana Siak. Hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Masjid ini
merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Siak. Didirikan pada tahun 1926
di era Sultan al-Said al-Kasyim Abdul Jalil Saifuddin.
Jika sedang jalan-jalan di
Siak, sempatkan mampir ke masjid ini untuk beribadah. Interior di dalamnya
cakep banget. Didominasi warna putih dan hijau dengan lampu gantung yang berada
di tengah ruangan menambah keindahan interior masjid ini.
Di dalam pekarangan masjid
juga terdapat makam Sultan Syarif Kasim II yang merupakan sultan siak terakhir
di kerajaan Siak.
3. Balai Kerapatan Adat
Balai Kerapatan Adat
dibangun sekitar tahun 1888 atau tepatnya satu tahun sebelum Istana Siak
dibangun. Di masa kerajaan, bangunan ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya
Sultan dan para staf untuk mendiskusikan hal-hal penting yang berkaitan dengan
pemerintahan. Selain itu, dulu bangunan ini juga digunakan sebagai tempat
persidangan.
Pintu utama Balai
Kerapatan Adat ini adalah yang menghadap ke sungai. Karena dulu transportasi
utama di Siak adalah kapal-kapal kecil yang melintas di sungai siak. Nah, jika
persidangan sedang berlangsung, tersangka yang akan disidang naik ke ruang
persidangan yang berada di lantai 2 melalui tangga utama, sedangkan keluarga
yang mengantar berkumpul di sisi kanan dan kiri bangunan.
Untuk mengetahui apakah
tersangka diputuskan bersalah atau tidak, pihak keluarga cukup menunggu di sisi
tangga. Ada dua buah tangga yang terletak di sisi kanan dan kiri. Satunya
tangga yang terbuat dari kayu dan satu lagi tangga dari besi. Jika putusannya
tidak bersalah, maka tersangka turun dari tangga besi. Sebaliknya, jika
bersalah maka tersangka turun dari tangga kayu dan langsung menuju penjara yang
dulu terletak di sisi kiri gedung.
Saat ini Balai Kerapatan
Adat ini digunakan sebagai museum. Kita bisa melihat beberapa peninggalan
kerajaan di balai ini. Jangan lupa naik ke lantai 2 karena kita juga bisa
melihat langsung diorama ruangan tempat berkumpulnya sultan dan ruangan-ruangan
yang dulu dipergunakan sebagai tempat persidangan.
4. Klenteng Hock Siu
Kiong & Bangunan Merah
Klenteng ini adalah salah
satu klenteng tertua yang ada di Siak. Usianya 140 tahun. Klenteng ini terletak
di kawasan pecinan atau juga dikenal dengan kawasan bangunan merah Siak Sri
Indrapura. Kenapa disebut kawasan bangunan merah? Karena semua bangunan di
kawasan ini memang dicat dengan warna merah!
Seluruh kawasan di Siak
termasuk kawasan bangunan merah ini, bisa dibilang rapi dan bersih. Benar-benar
tidak ada terlihat sampah sedikit pun. Jadi kita pun nyaman saat menyusuri
kawasan ini. Oh ya, mayoritas penduduk yang tinggal di kawasan ini adalah etnis
Tionghoa. Di momen-momen tertentu di malam hari, kita juga bisa menikmati
lampion yang terpasang cantik di kawasan ini. Terutama saat perayaan imlek.
3. Kolam Hijau, Makam Raja Kecik & Makam
Sultan Siak II
Sebagai tempat yang
menyimpan cerita sejarah salah satu kerajaan terkaya di Indonesia, Siak
pastinya banyak memiliki wisata sejarah. Salah satunya adalah kolam hijau ini.
Konon dulunya kolam ini digunakan oleh pihak istana untuk membersihkan
senjata-senjata usai perang. Waktu yang tepat untuk mengunjungi kolam hijau ini
adalah saat musim hujan. Karena jika datang di musim kemarau, kemungkinan besar
akan melihat kolam ini kering kerontang.
Tidak jauh dari lokasi
kolam hijau ini, terletak pula makam Raja Kecik yang dulu mendirikan kerajaan
Siak di Buantan. Di dalam kompleks makam ini, pengunjung juga bisa membaca
sejarah kerajaan Siak dari buku yang disediakan di sana.
Selain
makam Raja Kecik, makam Sultan Siak II atau yang dikenal dengan Tengku Buwang
Asmara juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika
sedang berlibur di Siak Sri Indrapura.
6.
Sunset di Pinggir Sungai
Menjelang senja, sempatkan
diri untuk duduk-duduk di pinggir sungai sambil menikmati pemandangan matahari
terbenam dengan latar belakang jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Jangan
lupa untuk memesan air kelapa muda agar suasana senja di Siak terasa semakin
menyenangkan.
7.
Air Mancur Zapin Menari
Malam
hari, sebelum beristirahat di hotel atau memutuskan pulang ke Pekanbaru,
sempatkan mampir ke Taman Tengku Mahratu yang terletak persis di depan istana
Siak. Setiap hari Sabtu dan Minggu, tepat pukul 21.00-21.30 wib, air mancur
yang ada di taman ini akan ‘menari’ dengan irama musik melayu.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Comments
Post a Comment